JAKARTA – Gereja di Asia dipanggil untuk terus menghadirkan wajah Gereja yang dialogis, berakar pada budaya setempat, serta berpihak kepada mereka yang miskin dan terpinggirkan. Hal itu disampaikan Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, dalam wawancara di sela Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) di Hotel Mulia, Jakarta.
Menurut Kardinal Suharyo, realitas Asia yang kaya akan keberagaman agama dan budaya menuntut Gereja untuk terus membangun dialog sebagai cara menghadirkan diri di tengah masyarakat.
“Gereja di Asia harus berdialog dengan agama-agama, kebudayaan, dan saudara-saudari yang miskin,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dialog dengan kebudayaan diwujudkan melalui inkulturasi, yakni menghadirkan iman Katolik dalam kekayaan budaya lokal. Di Indonesia, hal itu tampak melalui penggunaan bahasa daerah, musik tradisional, dan unsur budaya setempat dalam kehidupan liturgi Gereja.
Selain itu, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa Gereja tidak boleh menutup mata terhadap persoalan kemiskinan yang masih dialami banyak masyarakat di Asia. Menurutnya, masih banyak orang yang belum dapat menikmati martabat manusia secara utuh karena tidak memiliki akses terhadap kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.
Karena itu, Gereja dipanggil untuk memperjuangkan martabat manusia melalui ajaran sosial Gereja. Perjuangan tersebut diwujudkan dengan membangun kebaikan bersama, memperkuat solidaritas, serta memberikan perhatian khusus kepada mereka yang paling kurang beruntung.
Dalam kesempatan itu, Kardinal Suharyo juga menyinggung praktik korupsi sebagai salah satu hambatan bagi terwujudnya kebaikan bersama. Menurutnya, ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kesejahteraan masyarakat, martabat manusia menjadi terabaikan dan ketimpangan sosial semakin melebar.
Ia menegaskan bahwa Gereja harus terus mengingatkan pentingnya tanggung jawab moral dalam kehidupan berbangsa serta mendorong setiap orang untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Menutup refleksinya, Kardinal Suharyo mengajak seluruh Gereja di Asia untuk ikut merawat bumi sebagai rumah bersama. Kepedulian terhadap lingkungan, menurutnya, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan mewujudkan kehidupan yang adil, bermartabat, dan berkelanjutan bagi semua orang.
Pesan tersebut sejalan dengan tema Sidang Pleno XII FABC yang mengajak Gereja di Asia untuk semakin menjadi tanda harapan melalui dialog, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama di tengah berbagai tantangan zaman.
Foto by Silvester Kadmaerbun














