Sidang Pleno XII FABC

Sidang Pleno XII FABC Resmi Dibuka di Jakarta, Gereja Asia Didorong Menjadi Jembatan Perdamaian

Jakarta – Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (Federation of Asian Bishops’ Conferences/FABC) resmi dibuka di Jakarta, Senin (20/7/2026). Pertemuan yang berlangsung hingga 26 Juli 2026 ini mengangkat tema “The Call to Synodal Conversion and the Mission to Be Bridges and Bridge-Builders in Asia” atau Panggilan Menuju Pertobatan Sinodal dan Perutusan Menjadi Jembatan serta Pembangun Jembatan di Asia.

Konferensi pers pembukaan menghadirkan Presiden FABC Kardinal Filipe Neri Ferrão, Wakil Presiden FABC Kardinal Pablo Virgilio David, Sekretaris Jenderal FABC Kardinal Tarcisius Isao Kikuchi, SVD, Ketua FABC Office of Social Communication Uskup Marcelino Antonio M. Maralit Jr., serta Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Uskup Adrianus Sunarko, OFM.

Dalam pemaparannya, Uskup Maralit menjelaskan bahwa Sidang Pleno XII menjadi momentum penting bagi Gereja Katolik di Asia untuk memperkuat semangat sinodalitas, mendengarkan satu sama lain, melakukan diskernmen bersama, serta mencari cara-cara baru dalam mewartakan Injil di tengah keberagaman budaya, agama, bahasa, dan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Asia.

Presiden FABC, Kardinal Filipe Neri Ferrão, menegaskan bahwa Gereja di Asia memiliki panggilan untuk membangun dialog, rekonsiliasi, dan perdamaian di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Asia.

«”Gereja percaya bahwa bahkan di tengah situasi yang penuh tantangan, Gereja dipanggil bukan hanya menjadi pembangun jembatan, tetapi juga menjadi jembatan itu sendiri yang menghadirkan perdamaian, keharmonisan, dan dialog,” ujarnya.»

Sementara itu, Kardinal Pablo Virgilio David mengatakan semangat sinodalitas harus diwujudkan melalui dialog dengan agama-agama, budaya, kaum miskin, dan seluruh ciptaan. Menurutnya, Gereja di Asia dipanggil menjadi sarana persekutuan, harapan, dan pelayanan bersama seluruh masyarakat.

Menanggapi pertanyaan para jurnalis, para narasumber juga membahas berbagai isu yang menjadi perhatian Gereja di Asia, mulai dari kepemimpinan perempuan, budaya klerikalisme, kemiskinan, korupsi, hingga krisis iklim.

Kardinal David menegaskan bahwa pelayanan Gereja tidak cukup hanya melalui karya amal, tetapi juga harus menyentuh akar penyebab kemiskinan dan mendorong transformasi sosial. Ia juga mengakui bahwa korupsi masih menjadi tantangan serius di sejumlah negara Asia sehingga Gereja perlu terus membangun budaya kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Mengenai krisis iklim, para pemimpin Gereja Asia menegaskan bahwa persoalan tersebut merupakan tantangan moral yang membutuhkan tanggung jawab bersama. Gereja di Asia berkomitmen memperkuat perlindungan terhadap lingkungan hidup serta membela masyarakat yang terdampak kerusakan ekologis.

Indonesia juga mendapat apresiasi dalam konferensi pers tersebut. Kardinal Pablo Virgilio David menyebut nilai-nilai Pancasila sebagai inspirasi dalam membangun dialog dan persaudaraan lintas agama. Menurutnya, nilai-nilai yang mempersatukan masyarakat jauh lebih besar daripada perbedaan yang ada.

Sebagai bagian dari rangkaian Sidang Pleno XII, para peserta akan mengunjungi Masjid Istiqlal setelah Perayaan Ekaristi penutupan di Gereja Katedral Jakarta. Kunjungan melalui Terowongan Silaturahmi menjadi simbol komitmen Indonesia dalam membangun kerukunan dan dialog antarumat beragama.

Sidang Pleno XII FABC diikuti lebih dari 120 kardinal dan uskup dari 22 konferensi waligereja dan yurisdiksi gerejawi di Asia. Pertemuan ini diharapkan menghasilkan Dokumen Akhir sebagai pedoman pastoral mengenai sinodalitas di Asia serta pesan bagi Gereja di Asia untuk melanjutkan perjalanan pembaruan sinodal.

Laporan: Silvester Kadmaerubun
Foto: Silvester Kadmaerubun